Selasa, 29 Mei 2012

Asy-Syekh Kholil adalah titisan beberapa wali yang tergabung dalam Walisongo, Yaitu Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Gunung Jati dan Sunan Kudus, yang mana mereka bermarga “Azmatkhan” dan bersambung pada Sayyid Alawi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath. Beliau juga bernasab pada keluarga Basyaiban yang bersambung pada Al-Imam Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbat Al-Alawi Al-Husaini.

Berikut ini adalah silsilah nasab Syekh Syekh Kholil, terlebih dahulu saya tulis silsilah jalur laki-laki yang bersambung pada Suanan Kudus, untuk menunjukkan hak beliau dalam menggunakan nama belakang (marga/fam) “Azmatkhan Al-Alawi Al-Husaini”, sesuai dengan adat dan istilah pernasaban bangsa Arab.

JALUR SUNAN KUDUS



1. Syekh Muhammad Kholil Bangkalan.

2. Kiai Abdul Lathif. Dimakamkan di Bangkalan.

3. Kiai Hamim. Dimakamkan di Tanjung Porah, Lomaer, Bangkalan.

4. Kiai Abdul Karim[1].

5. Kiai Muharram. Dimakamkan di Banyo Ajuh, Bangkalan[2].

6. Kiai Abdul Azhim[3]. Dimakamkan di Tambak Agung, Sukalela, Labeng, Bangkalan.

7. Kiai Sulasi. Dimakamkan di Petapan, Trageh, Bangkalan.

8. Kiai Martalaksana. Dimakamkan di Banyu Buni, Gelis, Bangkalan.

9. Kiai Badrul Budur. Dimakamkan di Rabesan, Dhuwwek Buter, Kuayar, Bangkalan.

10. Kiai Abdur Rahman (Bhujuk Lek-palek). Dimakamkan di Kuanyar, Bangkalan.

11. Kiai Khatib. Ada yang menulisnya “Ratib”. Dimakamkan di Pranggan, Sumenep.

12. Sayyid Ahmad Baidhawi (Pangeran Ketandar Bangkal). Dimakamkan di Sumenep.

13. Sayyid Shaleh (Panembahan Pakaos). Dimakamkan di Ampel Surabaya[4].

14. Sayyid Ja’far Shadiq (Sunan Kudus)[5]. Dimakamkan di Kudus.

15. Sayyid Utsman Haji (Sunan Ngudung)[6]. Dimakamkan di Kudus.

16. Sayyid Fadhal Ali Al-Murtadha (Raden Santri /Raja Pandita). Dimakamkan di Gresik.

17. Sayyid Ibrahim (Asmoro). Dimakamkan di Tuban[7].

18. Sayyid Husain Jamaluddin[8]. Dimakamkan di Bugis.

19. Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin. Dimakamkan di Naseradab, India.

20. Sayyid Abdullah[9]. Dimakamkan di Naserabad, India.

21. Sayyid Abdul Malik Azmatkhan. Dimakamkan di Naserabad, India.

22. Sayyid Alawi ‘Ammil Faqih. Dimakamkan di Tarim, Hadramaut, Yaman.

23. Sayyid Muhammad Shahib Mirbath. Dimakamkan di Zhifar, Hadramaut, Yaman.

24. Sayyid Ali Khali’ Qasam. Dimakamkan di Tarim, Hadramaut, Yaman.

25. Sayyid Alawi. Dimakamkan di Bait Jabir, Hadramaut, Yaman.

26. Sayyid Muhammad. Dimakamkan di Bait Jabir, Hadramaut, Yaman.

27. Sayyid Alawi. Dimakamkan di Sahal, Yaman.

28. Sayyid Abdullah/Ubaidillah. Dimakamkan di Hadramaut, Yaman.

29. Al-Imam Ahmad Al-Muhajir . Dimakamkan di Al-Husayyisah, Hadramaut, Yaman.

30. Sayyid Isa An-Naqib. Dimakamkan di Bashrah, Iraq.

31. Sayyid Muhammad An-Naqib. Dimakamkan di Bashrah, Iraq.

32. Al-mam Ali Al-Uradhi. Dimakamkan di Al-Madinah Al-Munawwarah.

33. Al-Imam Ja’far Ash-Shadiq. Dimakamkan di Al-Madinah Al-Munawwarah.

34. Al-Imam Muhammad Al-Baqir. Dimakamkan di Al-Madinah Al-Munawwarah.

35. Al-Imam Ali Zainal Abidin. Dimakamkan di Al-Madinah Al-Munawwarah.

36. Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib. Dimakamkan di Karbala, Iraq.

37. Sayyidatina Fathimah Az-Zahra’ binti Sayyidina Muhammad Rasulillah Dimakamkan di Madinah Al-Munawwarah

Maka, dari jalur Sunan Kudus, Asy-Syekh Kholil adalah generasi ke-37 dari Rasulullah Shallahu 'alayhi wa sallam.

JALUR SUNAN AMPEL



1. Syekh Muhammad Kholil Bangkalan.

2. Kiai Abdul Lathif. Dimakamkan di Bangkalan.

3. Kiai Hamim. Dimakamkan di Tanjung Porah, Lomaer, Bangkalan.

4. Kiai Abdul Karim.

5. Kiai Muharram. Dimakamkan di Banyo Ajuh, Bangkalan.

6. Kiai Abdul Azhim. Dimakamkan di Tambak Agung, Sukalela, Labeng, Bangkalan.

7. Nyai Tepi Sulasi (Istri Kiai Sulasi). Dimakamkan di Petapan, Trageh, Bangkalan.

8. Nyai Komala. Dimakamkan di Kuanyar, Bangkalan.

9. Sayyid Zainal Abidin (Sunan Cendana). Dimakamkan di Kuanyar, Bangkalan.

10. Sayyid Muhammad Khathib (Raden Bandardayo)[10]. Dimakamkan di Sedayu Gresik.

11. Sayyid Musa (Sunan Pakuan). Dimakamkan di Dekat Gunung Muria Kudus. Dalam

sebagian catatan nama Musa ini tidak tertulis.

12. Sayyid Qasim[11] (Sunan Drajat). Dimakamkan di Drajat, Paciran Lamongan.

13. Sayyid Ahmad Rahmatullah[12] (Sunan Ampel). Dimakamkan di Ampel, Surabaya.

14. Sayyid Ibrahim Asmoro Tuban. Disini nasab Nyai Sulasi dan Kiai Sulasi bertemu.

Maka, melalui jalur Sunan Ampel, Asy-Syekh Kholil adalah generasi ke-34 dari Rasulullah.

JALUR SUNAN GIRI



1. Syekh Muhammad Kholil Bangkalan.

2. Kiai Abdul Lathif. Dimakamkan di Bangkalan.

3. Kiai Hamim. Dimakamkan di Tanjung Porah, Lomaer, Bangkalan.

4. Kiai Abdul Karim.

5. Kiai Muharram. Dimakamkan di Banyo Ajuh, Bangkalan.

6. Kiai Abdul Azhim. Dimakamkan di Tambak Agung, Sukalela, Labeng, Bangkalan.

7. Nyai Tepi Sulasi (Istri Kiai Sulasi). Dimakamkan di Petapan, Trageh, Bangkalan.

8. Nyai Komala. Dimakamkan di Kuanyar, Bangkalan.

9. Sayyid Zainal Abidin (Sunan Cendana). Dimakamkan di Kuanyar, Bangkalan.

10. Nyai Gede Kedaton (istri Sayyid Muhammad Khathib). Dimakamkan di Giri, Gresik.

11. Panembahan Kulon. Dimakamkan di Giri, Gresik.

12. Sayyid Muhammad Ainul Yaqin (Sunan Giri). Dimakamkan di Giri, Gresik.

13. Maulana Ishaq. Dimakamkan di Pasai.

14. Sayyid Ibrahim Asmoro Tuban. Disini nasab Nyai Gede Kedaton dan Sayyid Muhammad Khathib bertemu.

Maka, melalui jalur Sunan Giri, Syekh Kholil adalah generasi ke-34 dari Rasulullah SAW.

JALUR SUNAN GUNUNG JATI



1. Syekh Muhammad Kholil Bangkalan.

2. Kiai Abdul Lathif. Dimakamkan di Bangkalan.

3. Nyai Khadijah (Istri Kiai Hamim[13]). Dimakamkan di Bangkalan.

4. Kiai Asror Karomah.

5. Sayyid Abdullah.

6. Sayyid Ali Al-Akbar[14].

7. Sayyid Sulaiman. Dimakamkan di Mojo Agung, Jombang.

8. Syarifah Khadijah.

9. Maulana Hasanuddin[15]. Dimakamkan di Banten.

10. Syarif Hidayatullah[16] (Sunan Gunung Jati). Dimakamkan di Cirebon.

11. Sayyid Abdullah Umdatuddin.

12. Sayyid Ali Nuruddin/Nurul Alam.

13. Sayyid Husain Jamaluddin Bugis. Disini nasab Nyai Khadijah dan Kiai Hamim Kholil bertemu.

Maka, melalui jalur Sunan Gunung Jati, Syekh Kholil adalah generasi ke-32 dari Rasulullah SAW.

JALUR BASYAIBAN



1. Syekh Muhammad Kholil Bangkalan.

2. Kiai Abdul Lathif. Dimakamkan di Bangkalan.

3. Nyai Khadijah (Istri Kiai Hamim). Dimakamkan di Bangkalan.

4. Kiai Asror Karomah.

5. Sayyid Abdullah.

6. Sayyid Ali Al-Akbar.

7. Sayyid Sulaiman. Dimakamkan di Mojo Agung, Jombang.

8. Sayyid Abdurrahman (Suami Syarifah Khadijah binti Hasanuddin).

9. Sayyid Umar.

10. Sayyid Muhammad.

11. Sayyid Abdul Wahhab.

12. Sayyid Abu Bakar Basyaiban.

13. Sayyid Muhammad.

14. Sayyid Hasan At-Turabi.

15. Sayyid Ali.

16. Al-Imam Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam.

17. Saayid Ali.

18. Sayyid Muhammad Shahib Mirbat. Disini nasab keluarga Azmatkhan dan Basyaiban bertemu.

Maka, melalui jalur Sayyid Abdurrahman Basyaiban, Syekh Kholil adalah generasi ke-32 dari Rasulullah Shallahu 'alayhi wa sallam.

Demikianlah nasab Asy-Syekh Kholil dengan berbagai jalur yang saya dapatkan sampai saat ini, bisa jadi suatu hari nanti kita menemukan nama-nama baru daripada istri-istri jalur laki-laki yang ada itu.

Dalam hal pencatatan nasab, ada satu hal yang cukup membanggakan bagi Kiai-kiai Jawa dan Madura. Berkat gabungan antara adat Arab dalam menjaga silsilah dan adat Jawa/Madura yang tidak membeda-bedakan garis laki-laki dan perempuan, akhirnya Kiai-Kiai Jawa/Madura banyak yang memliki silsilah lengkap dari berbagai jalur. Saya pernah menunjukkan sebuah silsilah seperti ini pada seorang Syekh dari Yaman, beliau merasa kagum karena banyak jalur perempuan yang juga dicatat dalam silsilah itu selain jalur laki-laki, karena pada umumnya, orang Arab tidak tahu nama-nama kakek-buyutnya yang dari jalur ibu atau jalur nenek, mereka hanya mengenal yang jalur ayah keatas dengan garis laki-laki. [*]


______________
Notes ;

[1] Diriwayatkan diambil dari catatan Syekh Kholil sendiri pada akhir terjemah beliau atas kitab “Alfiyah Ibnu Malik” pada tahun 1294 H. Beliau menulis nama beliau dengan: “Muhammad Kholil bin Hamim bin Abdul Karim bin Muharrom”. Lihat lampiran “d” Banyak orang yang tidak mencatat nama “Abdul Karim” dan “Muharrom” dalam silsilah Syekh Kholil. Padahal sudah jelas tertera pada kitab tulisan tangan Syekh Kholil. Nasab ini juga diperkuat oleh penuturan Kiai Faqih Konang (Loamer Bangkalan). Kiai Faqih meninggal pada tahun 2006 dalam usia lebih dari 120 tahun. Setahun sebelum meninggal, periwayat bertemu dengan beliau untuk mengambil riwayat tentang kiai-kiai keturunan Sunan Cendana Kuanyar. Periwat pun berbincang-bincang selama kurang lebih empat jam dalam dua kali pertemuan, sampai membuat tamu-tamu yang lain mengantri lama di luar. Beliau sangat gembira dengan kedatagan Keluarga ( keturunan ), apalagi dalam rangka mengumpulkan riwayat Kiai-kiai sepuh, sehingga beliaupun memaksa untuk berbicara banyak walapun kondisi tubuh beliau sangat lemah, biasanya beliau menerima tamu hanya sekitar lima menit. Waktu itu Keluarga ( keturunan Syaikhona) ditemani oleh Kiai Khozin Bungkak. Sebagian perbincangan itu sempat direkam dan ditulis. Diantara yang beliau sebutkan adalah bahwa Nyai Sulasi (cucu Sunan Cendana) dengan Kiai Sulasi memiliki putra bernama Kiai Abdul Fattah, Kiai Abdul Fattah mempunyai beberapa putra diantaranya bernama Kiai Abdul Azhim, dan diantara putra Kiai Abdul Azhim adalah Kiai Muharrom yang menurunkan Syekh Kholil Bangkalan. Sampai saat ini saya belum menemukan catatan yang mencantumkan nama “Abdul Fattah”, maka dari itu dalam silsilah ini saya tidak memasukkanya, karena saya lebih menguatkan yang ada catatannya. Malah saya punya perkiraan bahwa “Abdul Fattah” itu adalah nama asli Kiai Sulasi, barangkali saja Kiai Faqih salah dengar atau salah ucap. “Sulasi” itu bukan nama orang, melainkan nama tempat yang asalnya adalah “Selase”. Dijuluki Kiai Sulasi karena tinggal di Selase itu. Nah, mungkin saja “Abdul Fattah” adalah nama asli beliau sehingga riwayat Kiai Faqih menjadi rancu antara “Kiai Sulasi” dan “Kiai Abdul Fattah”. Riwayat Kiai Faqih tentang Kiai Muharrom ini lebih menguatkan catatan yang ada dalam kitab Syekh Kholil.

[2] Berdasarkan riwayat Kiai Faqih.

[3] Nama-nama mulai dari Kiai Abdul Azhim sampai ke Raden Santri saya dapatkan dari Kiai Fauzi Lomaer. Beliau mendapatkan dari catatan keluarga Bani Muqiman bin Hamim.

[4] Menurut catatan Kiai Fauzi, beliau inilah yang terkenal dengan julukan “Mbah Sholeh” murid Sunan Ampel.

[5] Ada yang menulis Sunan Kudus sebagai putra Sunan Ampel, terasuk Sayyid Dhiya’ Syihab dalam ta’liq kitab “Syams Azh-Zhahirah”. Namun yang saya lihat dalam banyak catatan silsilah yang dipegang Kiai-kiai di berbagai tempat adalah bahwa ibu Sunan Kudus bernama Nyai Anom Manyuran binti Nayi Ageng Manyuran binti Sunan Ampel. Sampai saat ini banyak kalangan tertentu yang terlalu fanatik dengan kitab “Syams Azh-Zhahirah” dan ta’liqnya, sehingga ada semacam pemahaman bahwa kalau tidak ada dalam kitab tersebut atau bertentangan dengan kitab tersebut berarti tidak sah. Padahal, dilihat kitab itu banyak kelemahan riwayatnya ketika berbicara tentang Walisongo yang dari keluarga Azmatkhan. Hal itu sebenarnya dapat dimaklumi, karena kitab tersebut dutulis tidak berdasarkan kumpulan riwayat yang tersebar di berbagai tempat. penulis ta’liq kitab tersebut hanya menulis berdasarkan riwayat beberapa orang yang sempat beliau temui, karena beliau tidak banyak waktu untuk mengunjungi semua Kiai dan menanyai silsilah mereka. Namun begitu, beliau telah melakukan hal yang besar dengan memperkenalkan “Sunan-sunan” keluarga Azmatkhan pada Alawiyyin di Arab. Hanya saja, sangat disayangkan karena kemudian tidak ada dari kalangan mereka yang menindaklanjuti langkah beliau dengan menulusuri keturunan Sunan-sunan itu. Hal ini kemudian menimbulkan suatu asumsi yang tidak ilmiyah di kalangan awam mereka, yaitu dengan menganggap bahwa yang tidak tercatat dalam ta’liq “Syams Azh-Zhahirah” berarti tidak sah. Apalagi sering terdengar komentar sinis dari kalangan awam itu bahwa Sunan-sunan tidak punya keturunan laki-laki, karena anak-anak mereka yang laki-laki meninggal sebelum punya anak. Padahal, Sayyid Dhiya’ Syihab dalam ta’liq “Syams Azh-Zhahirah” jelas menulis nama-nama Kiai yang beliau ambil riwayatnya dengan mengatakan bahwa mereka masih keturunan Sunan. Demikian pula dengan Sayyid HMH Al-Hamid, dalam buku “Pembahasan Tuntas Tetang Khilafiah”, beliau juga menyatakan bahwa banyak sekali Kiai-kiai yang bernasab pada Sunan-sunan Azmatkhan dengan garis laki-laki.

[6] Dalam Taliq “Syams Azh-Zhahirah”, Sunan Ngudung ditulis sebagai putra Ali Nuruddin bin Husain Jamaluddin. Berarti Sunan Ngudung adalah saudara kandung ayah Sunan Gunung Jati. Sementara keraton Cirebon tidak mengenal nama Sunan Ngudung sebagai kerabat dekat. Seandainya Sunan Ngudung adalah paman kandung Sunan Gunung Jati, maka tentu bangsawa Cirebon akan mencatat nama beliau sebagaimana nama Falatehan yang menjadi menantu Sunan Gunung Jati. Ditambah lagi dengan riwayat masyhur dalam catatan silsilah Kiai-kiai yang menyatakan bahwa Sunan Ngudung adalah mantu cucu Sunan Ampel. Selain itu, Sunan Ngudung populer di zaman Kesultanan Demak sepeninggal Sunan Ampel, maka hitungan tahunnya lebih layak kalau Sunan Ngudung menjadi keponakan Sunan Ampel daripada menjadi paman Sunan Gunung Jati. Mengingat Ta’liq “Syams Azh-Zhahirah” tidak menyebut referensinya, maka Penulis kami  lebih menguatkan silsilah yang menyebut “Sunan Ngudung bin Raden Santri”, karena silsilah ini ditulis dengan jelas dalam banyak catatan Kiai-Kiai. Mungkin saja, yang membuat rancu referensi “Syams Azh-Zhahirah” adalah nama “Ali”, karena nama Raden santri dan kakek Sunan Gunung Jati sama-sama ada “Ali”nya. Kalau Raden Santri bernama asli “Fadhal Ali Al-Murtadha” sedangkan kakek Sunan Gunung Jati bernama “Ali Nuruddin” atau yang oleh sebagian orang ditulis “Ali Nurul Alam”.

[7] Nama ini sering dibuat rancu oleh banyak orang. Mereka menganggap bahwa Ibrahim ini adalah Maulana Malik Ibrahim. Adapun Maulana Malik Ibrahim adalah putra Barakat Zainul Alam bin Husain Jamaluddin.

[8] Banyak orang menyebutnya Syekh Jumadil Kubro. Dan ada banyak makam yang dinisbatkan pada Syekh Jumadil Kubro. Maka boleh jadi “Syekh Jumadil Kubro” itu adalah tahrif (salah ucap) dari beberapa nama. Adapun yang paling shahih adalah makam yang di Bugis, karena di sekitar makam itu terdapat banyak keluarga bangsawan yang bernasab pada beliau.

[9] Banyak yang menulisnya “Abdullah Khan”. Ini adalah suatu kesalahan. Marga “Khan” itu bukan marga Sayyid, melainkan marga bangsawan Pakistan yang mengadopsi dari nama belakang penguasa-penguasa Mongol. Sejarah mencatat meratanya serbuan dan perampasan bangsa Mongol di belahan Asia. Diantara nama yang terkenal dari penguasa-penguasa Mongol adalah Khubilai Khan. Setelah Mongol menaklukkan banyak bangsa, maka muncullah Raja-raja yang diangkat atau diakui oleh Mongol dengan menggunakan nama belakang “Khan”, termasuk Raja Naserabad, India. Ketika Sayyid Abdul Malik (ayah Sayyid Abdullah) menjadi menantu bangsawan Naserabad, mereka bermaksud memberi beliau gelar “Khan” agar dianggap sebagai bangsawan setempat sebagaimana keluarga yang lain. Hal ini persis dengan cerita Sayyid Ahmad Rahmatullah ketika diberi gelar “Raden Rahmat” setelah menjadi menantu bangsawan Majapahit. Namun karena Sayyid Abdul Malik dari bangsa “syarif” (mulia) keturunan Nabi, maka mereka menambah kalimat “Azmat” yang berarti mulia (dalam bahasa Urdu India) sehingga menjadi “Azmatkhan”. Dengan huruf arab, mereka menulis عظمت خان bukan عظمة خان, dengan huruf latin mereka menulis “Azmatkhan”, bukan “Adhomatu Khon” atau “Adhimat Khon” seperti yang ditulis sebagian orang. Tentang sejarah keluarga Azmatkhan mulai dari leluhur Sayyid Abdul Malik hingga Sunan-sunan Walisongo, periwayat telah menulisnya dengan panjang lebar dalam buku “Dari Kanjeng Nabi Sampai Kanjeng Sunan”.

[10] Di Madura banyak silsilah dengan nama “Khathib”, termasuk ayah Sunan Cendana ini. Ketika orang-orang menemukan nama Khathib dan belum dapat “bin siapa”nya, mereka cenderung mencari-cari nama Khathib dalam silsilah lain. Hal ini mengakibatkan adanya banyak kerancuan silsilah keatas seorang “Khathib”, termasuk Khathib ayah Sunan Cendana ini. Saya menguatkan nasab Sunan Cendana dengan silsilah Khathib bin Musa bin Qasim (Sunan Drajat), karena silsilah yang ini dipegang oleh banyak keluarga dari bani Sunan Cendana. Setahu saya, ada dua “Khathib” yang pernah terselip pada silsilah Sunan Cendana selain yang dipegang juru kunci, yaitu Khathib bin Sya’ban bin Sunan Ampel dan Khathib Panjang bin Panembahan Kidul bin Sunan Giri.

Kemudian ada satu hal yang perlu Periwayat bicarakan mengenai silsilah antara Sunan Cendana dan Sunan Drajat. Ada seorang Arab yang dikenal ahli nasab dan kemudian mengusik nasab Sunan Cendana. Hal ini dianggap perlu dibahas agar pembaca mengerti persoalannya kalau-kalau suatu saat mendengar “omongan miring” itu. Awalanya begini, suatu ketika Periwat menunjukkan nasab seseorang yang bersambung pada Sunan Cendana. Ia pun merasa keberatan melihat catatan silsilah itu menunjukkan bahwa pemiliknya adalah keturunan ke-35 dari Rasulullah SAW. Sementara dia sendiri (si ahli nasab) yang lebih tua dari pemilik silsilah itu adalah keturunan ke-40. Kemudian si ahli nasab itu mengatakan bahwa silsilah itu meragukan sehingga sulit untuk menembus pengesahan Rabithah Alawiyah (Persatuan Alawiyyin keturuan Al-Hasan dan Al-Husain), karena saksi-saksi yang mengetahui langsung hubungan anak-beranak dari nama-nama dalam silsilah itu sudah meninggal semua. Tidak beberapa lama kemudian Periwat bertemu dengan Kiai Hannan (juru kunci makam Sunan Cendana). Ketika berbincang-bincang tentang nasab Sunan Cendana, Kiai Hannan berkata bahwa beberapa bulan yang lalu beliau berbincang-bincang dengan si ahli nasab itu, dia bilang bahwa antara Sunan Cendana dan Sunan Drajat itu ada sekitar empat nama yang hilang, mestinya bukan Sunan Cendana bin Khathib bin Sunan Drajat, melainkan setidaknya Sunan Cendana bin Khathib bin fulan bin fulan bin fulan bin fulan bin Sunan Drajat. Dengan cerita Kiai Hannan itu, Periwayat baru paham mengapa si ahli nasab itu keberatan dengan silsilah keturunan Sunan Cendana, yaitu karena nasab keturunan Sunan Cendana kebanyakan sangat tinggi dibanding si ahli nasab, nampaknya ia keberatan untuk kalah tinggi dengan keturunan Sunan Cendana, sehingga iapun berani berbohong meyakini ada sedikitnya empat nama yang hilang. Wa ALLOHU A'lam bi sowaf...............

Minggu, 13 Mei 2012

 

Khoriqul adah

             Khoriqul adah adalah perkara yang diluar kebiasaan adapun khoriqul adah di bagi tiga yakni : 
1. Mukjizat    : dimana datangnya langsung dari ALLAH SWT tanpa ada tandingannya.
2. Sihir       : dimana datangnya dari niatan atau maksud yang buruk atau dengan syarat yang buruk .
3. Karomah   : bagi para wali atau orang orang sholeh yang datang dari niatan hati yang tulus atau bersih.
              Begitu pula khoriqul adah berlaku bagi siapa pun yang diberikan ALLAH kelebihan karena dasar lelaku riyadoh atau wiridan dengan kata lain ilmu hikmah yang terkadang kita dengar ilmu karomah,walaupun ada khilah diantara ulama yang menyatakan ilmu karomah bukan bagian dari ilmu tasawuf, dikarenakan bukan inti dari beribadah hal tersebut tak lain bonus/ buah dari wiridan yang sejatinnya tetap hannya semata mata mencari ridho ALLAH SWT.

Disini kami memberikan IJazah Amalan Gratis guna sebagai tambahan ibadah keseharian.

Berikut ini kami akan membagikan beberapa wiridan, Dengan harapan sarana untuk menambah amal ibadah saudara semuslim.untuk yang menginginkan di antara wiridan di bawah ini harap sms/tlp, agar dapat kami jaza' dan beri sanadnya

    Wiridan - wiridan untuk tiap ba'da sholat beserta faidah
1. Ya ARHAMA RHOHIMIN 33x : para malaikat akan ikut mendoakan yg hajati
2. Istiqhfar 100x sholawat 100x tahlil 100x : Insya ALLAH terjauh dari godaan syetan
3. SubhanaLLAH 33x AlhamduliLLAH 33x ALLOHU Akbar 33 x :Melebur dosa walau banyaknya seperti buih di lautan.
Amalan gentak
BismiLLAHI AKBAR mimma nakhof  ( 7 x) tanpa nafas dibaca ba'da maghrib selama 40 hari. dan ketika kita hendak menghadap orang dzolim yang kita tuju baca wiridan ini 7x bila nafsin lalu mundur satu langkah injak bumi lagi 3 kali dengan niatan bukan menginjak bumi melainkan menginjak fulan bin fulan.

  Amalan pagar diri /menetralisir di tempat angker

membaca ayat kursi kursi 7 atau 11 atau 41 x ketika sampai pada lafadz (wa la ya udu) di ulang 7 x.

  Amalan Selamat dari perjalanan/kekacauan.

lakod' jaakum Rosuulum min angfusikum azizun alaihima anittum hariisun alaikum bil mu'miniina rouufu rohim, fa ingta walau fakul hasbiyaLLOH la iha ila huwa ROBBUL ARSYIL ADZIM.3x

 Amalan mahabbah pandangan.

ALLOHUmma yusufu bi qolbi haliha wa ana siha jantungku nabi muhammad yusufu qolabi bi nuriku jiha badanatun ku kinasih birahmatika ya ARHAMA RHOHIMIN. 3/7x. ba'da maghrib dan subuh

Amalan mencari pekerjaan/rizki

Robbana atina fi dunya hasanah 1000x tiap hari bisa juga dicicil tiap ba'da Sholat 200x

Amalan pagar diri/karomah/keselamatan.

BISMILLAHI ROHMANI ROHIM 1000x atau 2000x jika kuat, jika merasa pusing atau panas bimbang harap tidak di amalkan/ di kurangi jumlahnya tandanya batin kita belum siap.
Amalan

Rabu, 09 Mei 2012

Misteri Mimpi

Arti Mimpi

Banyak orang mendefinisikan mimpi,tanpa niatan mengucilkan yan lain disini kami memaparkan bahwa mimpi memiliki 3 wacana :

1.Ru'ya Shodiqo {mimpi yang benar}:merupakan mimpi dari ALLAH SWT berupa kabar baik,buruk,peringatan,ilham dll. Dimana banyak kita dengar cerita mimpi mimpi para nabi,sahabat dan para ulama salafu sholeh.

2.Adlghaatsu ahlam { hiasan/bunga tidur }: merupakan mimpi yang di tuntun syetan untuk memberikan perasaan takut,cemas,was was dll. walaupun ada sebagian yang benar adanya tak lain itu hanya untuk menjerumuskan kita pada jalan jalan sesatnya. kita harus meyakini segala apa apa yang terjadi tak lain dan tak bukan karena kuasa dan kehendak ALLAH SWT.ada pun kebenaran mimpi yang datangnya dari syetan hanya kebetulan bersamaan dengan takdir ALLAH, bukan yang lainnya.

3.Hadiitsu nafsi { cerita diri }:merupakan mimpi dari dorongan bawah sadar akan keseharian,keinginan yang tak tercapai,ketakutan akan terjadinya sesuatu atau yang lainnya yang tanpa kita sadari tubuh,akal atau jiwa kita menghafalnya.

Keterangan : mimpi yang di yakini keberannya bagi orang orang yang bertaqwa 1.Seakan akan menghadap ALLAH SWT ,bertemu nabi dan malaikatkarena syetan tidak bisa menyerupai nabi.2 hewan atau bayi yang berbicara karena syetan tidak bisa menyerupai makhluk tak berdosa secara sempurna.

Tabir Mimpi

Disini kami hanya mengulas makna mimpi pengalaman pribadi dan kawan kawan santri yang sudah di taskhih oleh para sesepuh kyai dan benar kejadiannya sesuai dengan taqdir yang terjadi pada kami serta makna mimpi tambahan ikhtibar yang pernah kami dapat kitab kuning dan sesepuh kyai. namun jangan jadikan mimpi sebagai patokan ikhtiar dan doa lah jadikan senjata karena banyak hal yang di perhitungkan atau fikiran yang dalam untuk mengurainya. inna nahnu bi ltakhyir inna LLOHA bi taqdir.

 

1.Mimpi seakan akan menghadap ALLAH SWT : segala yang di cita citakan akan terkabul dan mendapat derajat yang tinggi
2.Mimpi bertemu malaikat : bertanda akan mendapat rahmat dan kemuliaan
3.Mimpi bertemu para nabi : bertanda akan mendapat karunia sesuai kkeadaan dalam mimpi bila namun jika nabi hanya membelakangi hendak memperbanyak sholawat dan istiqhfar.
4.Mimpi bertemu ulama atau waliyuLLOH : bertanda akan mendapat rahmat
5.Mimpi Bayi  : bayi dalam mimpi berarti akan mendapat harta, kebanyakan dari sanak famili.
6.Mimpi mendapat Emas,uang/harta : akan mendapat penyakit,musibah/cobaan. tapi kalau terbilang tidak terlalu banyak biasanya akan terkena penyakit gatal gatal.
7.Mimpi Bayi memeluk/bersanding emas atau uang : akan mendapat harta yang bermasalah atau terkadang juga haram. biasanya mimpi ini beserta orang orang memperebutkannya. 
8.Mimpi Buang air besar : akan ada pengeluaran harta benda atau materi. bisa dinilai jika kotorannya menyebar kemana mana berarti lumayan besar, jika lama buang airnya maka pengeluaran akan terjadi sampai beberapa kali.biasanya sih kredit nunggak.hehehe
9.Mimpi mendapat senjata : akan mendapat pangkat,kedudukan atau martabat, sedangkan pengaruhnya sesuai yang di hasilkan dari hantaman senjata yang di dapat.
10.Mimpi bertemu mendiang orang tua : jika tersenyum maka dia ikhlas pada kita dan insya ALLAH akan mendapat karunia.jika terlihat sengsara maka itu suatu peringatan akan kelalaian kita. jika terlalu sering di takutkan jauh dari rizki (hiasan dunia bukan kulu ma dakhola ilal batni).
11.Mimpi melihat bintang menyinari kita : Akan naik jabatan
12.Mimpi di terjang hunjan deras dan guntur : akan mendapat fitnah cobaan dari kerabat tetangga. kalau sebentar lalu terang maka anda bisa mengatasinya, dan biasanya kunci yang dapat mengatasinya hanya anda.
13.Mimpi melihat bulan : akan mendapat anugerah atau kebahagiaan jika seakan akan kita mendapatkannya maka akan mendapat derajat yang tinggi.
14.Mimpi melihat ikan : jika besar dan dapat dihitung berarti seorang wanita,jika tak terhitung berarti akan mendapat anugerah.jika ikannya kecil kecil biasanya akan mendapat cobaan
15.

Senin, 07 Mei 2012

***Pengobatan alternatif penyakit klenik gratis call/sms :** 087849851489**

ASSALAMUALAIKUM WARAHMATULLOHI WABARAKATUH

 Bismillahirrohmanirrohim. Segala puji bagi ALLAH SWT yang menciptakan kekuatan langit ,bumi dan seluruh alam semesta dimana kemutlakan hanya milikNYA. Salawat dan salam kami haturkan keharibaan junjungan kami nabi akhir zaman Nabi MUHAMMAD SAW.


Segala kekuatan langit bumi jin dan manusia hanyalah milik ALLAH, dan hanya kembali padaNYA. banyak jalan menuju roma pribahasa katakan, memeng bener pribahasa katakan tapi apakah benar jalan  yang kita tempuh ini dapat sampai ke roma atau justru ke belahan dunia yang lain.Banyak dari sahabat muslim yang mendapat cobaan berupa sakit terlebih lagi sakit yang katakanlah non medis, menempuh jalan yang tidak sepatutnya, selayaknya pengobatan alternatif yang tidak di teliti lebih dahulu,yang sebagian secara samar berujung pada kesyirikan < naudzubiLLAHI min dzalik>. itu semua karena kurangnya wawasan beragama atau terkadang pula faktor ekonomi yang menjepit.
Disini kami mengajak sahabat muslim untuk kembali pada Al Qur'An dan Sunnah Rosul. Untuk bersama sama memecahkan problematik hidup Syariat yang tidak menyalahi aturan agama. Dengan dzikir Sirrul wali, kami siap membantu tanpa di pungut biaya apa pun, semata mata hanya mengharap RIDHO ALLAH SWT untuk bekal di hari nanti. Wassalamuaalaikum. wr. WB.

Ust. Moch. Marzuki